BAGAIMANA CARA MENGEMBANGKAN EMOTIONAL INTELLIGENCE (KECERDASAN EMOSI) ANAK

BAGAIMANA CARA MENGEMBANGKAN EMOTIONAL INTELLIGENCE (KECERDASAN EMOSI) ANAK

Tiap tahun, menjelang musim dingin, sebelum salju turun, Guru play
group Sabrina North meminta orang tua murid mengirimkan baju musim salju
anaknya. Untuk minggu selanjutnya, dia menolong murid berumur 3 tahun untuk
mengenakan pakaian musim dingin, sarung tangan, sepatu boot, dan topi salju.

Sang guru terus menerus menyemangati, menghadapi kesulitan dan frustasi
muridnya sampai semuanya bisa mengenakan pakaian salju sendiri.

Latihan itu membawa hasil ketika salju turun, tetapi untuk North, ini
bukan sekedar mengajarkan kemandirian. Dia mengajarkan Emotional
Intelligence atau E.Q (kecerdasan Emosi).


Bagaimana?
EQ merujuk ke kemampuan sosial atau emosional seseorang dalam kemampuan
membina hubungan dan perasaan sensitive (empati) pada diri sendiri maupun
orang lain. Akhir-akhir ini EQ ramai menjadi topik, tetapi konsep EQ telah
ada puluhan tahun sebelumnya; seseorang yang pernah menjalani konsultasi
pasti mengalami, dan banyak orang tua melaksanakannya secara naluri.

Bukan itu saja; Dalam dunia yang beraneka ragam, penuh permusuhan dan
kekerasan.

Para peneliti, pendidik dan psikolog menyatakan Kecerdasan Emosi adalah
daya pertahanan hidup, bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Mereka
mengatakan bahwa EQ lebih penting dari IQ, nyatanya EQ meningkatkan IQ, dan
pada Millenium berikutnya, orang yang rendah EQ-nya akan menderita.

Jadi North memulainya dengan anak umur 3 tahun, saat mereka mulai
melihat diri mereka sebagai bagian dari komunitas yang besar. "Saya menolong
mereka menyadari hubungan bahwa ketekunan memberikan kemampuan",katanya.
Saya mengatakan "Lihat hasil latihanmu! Kamu bisa melakukannya sendiri!
Tidakkah hal itu membuat kamu senang?"

disitulah terletak inti permasalahannya.

"Merasa senang akan diri sendiri adalah dasar EQ",kata North.

"Hal itu menimbulkan kepercayaan diri, dan semakin yakin seseorang akan
dirinya, semakin baik kemampuan belajar dan kemampuan memanfaatkan dirinya"
,North adalah kepala sekolah di Pusat Pendidikan Anak-anak di Universitas
Michigan.

Berbeda dengan IQ, tidak ada cara mengukur EQ kecuali secara gurauan. North,
mungkin mengatakan pada orang tua mereka,"Joey memiliki kesulitan bermain
bersama secara kooperatif", dan menawarkan cara agar mereka bisa
meningkatkan sikap kooperatif, misalnya dengan melakukan tugas sederhana
bersama-sama dan mengomentari,"Pekerjaan ini menjadi lebih menyenangkan
karena dilakukan bersama-sama!"
EQ sering disalahartikan dengan temperamen, padahal temperamen adalah
sifat tingkah laku bawaan lahir, sedang EQ adalah respons yang dipelajari.
Diane Warner, konsultan pendidik bayi dari Hartford menjelaskan
perbedaannya:

"Karakteristik temperamen memberikan gambaran bagaimana anak itu menghadapi
sesuatu apakah lambat bereaksi, sosial, tegas atau santai, sedangkan EQ
menolong anda menghadapi berbagai temperamen tersebut, sehingga anda mampu
mengatasi diri sendiri maupun orang lain."

Contohnya, seorang anak yang impulsive dengan EQ yang tinggi akan lebih
dapat mengendalikan diri dari pada anak yang sejenis dengan EQ yang rendah;
anak yang pemalu dengan EQ tinggi akan belajar memulai pendekatan sosial
dalam lingkup kecil.

MELETAKKAN DASAR
Dasar EQ dimulai sejak lahir, kata Stanley Greenspan, seorang psikiater
anak, professor pada sekolah Kedokteran Universitas George Washington:

1 BAYI BARU LAHIR. "Ketika matanya bertemu dengan mata anda, anda tahu bahwa
ia sedang memperhatikan", kata Greenspan. Saat itu ketika anda berdua saling
memandang, berikan perasaan aman yang akan merupakan dasar untuk
perkembangan.

2 DUA SAMPAI 6 BULAN. Gelitikan, mimik muka, dan interaksi lainnya yang
menyenangkan membawa bayi pada perasaan percaya dan keintiman.

3 EMPAT SAMPAI 10 BULAN. Komunikasi dua arah melalui permainan meniru
sederhana (anda melambaikan tangan, dia melambaikan tangan, anda melambaikan
tangan lagi) merupakan cara dia mempelajari sinyal emosional: "Saya dapat
membuat Daddy melambaikan tangan!" Ini adalah dasar kemampuan intelektual
dalam mempelajari hokum sebab-akibat dan untuk mulai memahami sinyal sosial
dalam kehidupan, kata Greenspan. Seperti tercantum dalam buku barunya yang
berjudul "Building Healthy Minds".(Perseus)

4 SEPULUH SAMPAI 18 BULAN. Ketika interaksi mulai bertujuan dia akan
memegang tangan anda, mengajak berjalan ke Lemari es untuk menyatakan dia
ingin jus, perasaan "AKU"nya mulai timbul. Semakin diperjelas, semakin baik:
"Kamu ingin minum jus dan kamu jelaskan pada saya bagaimana menyatakannya
pada saya! Kamu adalah orang yang tahu bagaimana mendapatkan apa yang kau
perlukan".

5 DELAPAN BELAS SAMPAI 30 BULAN. Batita (Bawah tiga tahun) menyatakan emosi
dalam bermain. Ketika anda menandai perasaan tersebut, dia dapat
menghubungkannya dengan tingkah-lakunya : "Boneka itu begitu gembira karena
kamu memeluknya!"

6 TIGA TAHUN LEBUH. Anak-anak lebih dapat menghubungkan antara perasaan dan
idea kalau konsep dimasukkan pada konteks emosional, kata Greenspan.
Daripada menyatakan "Tunjukkan saya yang mana mobil merah", cobalah
mengatakan "Warna mobil apa yang kamu senangi, merah atau biru? Saya
menyulkai yang merah; itulah warna baju kesukaan saya."

Intinya adalah untuk menimbulkan perasaan pada anak bagaimana ia
memasukkan kesadaran emosional bersamaan dengan perkembangan perasaan fisik
dan kemampuan intelektual. "Hal ini lebih penting dari yang kita perkirakan"
, menurut Greenspans.

Itu disebabkan emosi bisa menolong proses belajar atau menempatkannya
pada jalannya, menurut Warner, yang menyelenggarakan seminar mengenai EQ di
konvensi tahunan pada The National Association for the Education of Young
Children. Bayangkan seorang anak yang digertak saat istirahat. "Ketika
kembali kekelas, Dia begitu marah dan frustasi untuk mampu berkonsentrasi.
Dia menarik diri atau mencoba menarik perhatian, keduanya membuat pelajaran
siang tersebut tidak masuk pada pikirannya",kata Warner. Tetapi jika
perasaannya diakui, dia akan lebih mampu mengikuti pelajaran.

Dari semua kecakapan yang diperlukan untuk EQ, kemampuan untuk menunda
kepuasan mungkin yang paling penting, menurut Warner. Dia mengutip
Penelitian Marshmallow, dimana seorang penguji menaruh dua marshmallow
(gula-gula) di meja dan mengatakan pada anak 4 tahun dia memiliki pilihan:
Dia boleh memakan sebuah sekarang atau makan dua-duanya nanti, sesaat
setelah penguji kembali lagi. Kemudian anak itu ditinggal sendiri. Sepertiga
dari anak-anak itu mengambil marshmallow dan memakannya. Yang lain melakukan
segala macam kegiatan untuk menahan godaan, dari menutup mata sampai
bernyanyi.

Selanjutnya anak yang sama diteliti sampai sekolah tinggi. Ada
perbedaan yang cukup menyolok diantara mereka. Anak yang langsung memakan
marshmallow telah menjadi anak remaja yang bimbang, seringkali frustasi, dan
tidak tahan banting. Anak yang dapat menunda kepuasan mampu mengatasi rasa
frustasi, mandiri dan tabah. Yang lebih mengejutkan adalah nilai SAT-nya:
Anak yang "langsung memakan" nilai rata-ratanya dalam bahasa dan matematika
100 angka dibawah yang dapat menunda kepuasan. "Apakah ada penerapannya pada
belajar?" Tanya Warner. "Berani taruhan, karena kemampuan EQ bukan bawaan
lahir. Mereka dapat diajarkan".

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN EQ
Psikolog pendidikan Anabel Jensen, seorang professor muda pada College of
Notre Dame dan Pimpinan dari 6 seconds, sebuah organisasi non-profit yang
bertujuan mengembangkan Emotional Intelligenc, memprioritaskan tiga
kecakapan EQ yang paling penting:
1 PENGENDALIAN IMPULS (dorongan untuk bertindak).

"Sampaikan bahkan pada bayi bahwa kebutuhannya akan terpenuhi, tetapi bukan
berarti segera: "Saya akan memberikan Jus untukmu, tapi saya harus ke kamar
mandi dulu". Pada anak berumur sekolah, latihan penundaan keinginan harus
dilaksanakan:"Pernahkah anda perhatikan betapa impulsifnya kita semua?
Marilah kita perhatikan apakah kita bisa menyadari diri kita sendiri: Adakah
Peraturan Keluarga misalnya kita hanya boleh minum soda pada hari Jum'at,
saya menaruh soda pada kulkas hari Senin. Marilah kita lihat apakah kita
sendiri bisa menahan diri".

2 OPTIMISME.

Jensen mengatakan pada anak-anak bahwa orang yang pesimis melihat kegagalan
sebagai hal yang permanen dan meresap dan memandang dirinya tidak kuat;
seorang yang optimis melihat kegagalan sebagai sesuatu yang sementara dan
tertentu dan menanyakan dirinya, "Apa yang bisa saya kerjakan untuk
mengatasinya". Ketika keponakannya yang berumur 16 tahun gagal dalam test
bahasa Spanyol dan menyimpulkan, dengan sifat remaja yang berlebihan, bahwa
dia gagal dalam hidupnya, Jensen menanyainya, "Apakah kamu sebelumnya pernah
juga mendapat nilai buruk dalam bahasa Spanyol? Tidak? Jadi kegagalan itu
sementara. Apakah kamu juga gagal dalam bidang lain? Tidak? Jadi itu
tertentu, hanya terjadi pada pelajaran bahasa Spanyol. Berapa lama kamu
belajar? Sepuluh menit? Kalau begitu kamu bukan tidak mampu!"

3 EMPATI.

Meskipun anak dibawah 7 tahun tidak dapat mengerti pandangan orang lain,
Jensen menyarankan untuk berbicara seakan mereka mengerti. Pada akhirnya,
pesan ini akan dimengerti: "Bagaimana perasaanmu ketika kamu sedang
memainkan suatu mainan dan seseorang mengambilnya?


Pada anak Play group, Jensen mengatakan bahwa anda bisa bercakap-cakap agar
mereka sadar secaraemosional, contohnya, "Apa pendapatmu tentang dirimu
dikelompok? Apakah kamu orang yang langsung ikut bermain ataukah
melihat-lihat keadaan dahulu?" Lalu tolonglah dia untuk menyadari dirinya
dan memutuskan bagaimana akan bertindak: "Bukankah akan menarik untuk pergi
ke pesta ulang tahun itu dan mencoba bertindak berbeda, untuk melihat
bagaimana hasilnya nanti?

Jensen mengatakan orang yang dituntun dalam kesadaran emosionalnya sejak
masa kecil tumbuh dengan kesadaran akan kekuatan dan kelemahannya, dan
memilih pilihan yang lebih bertanggung jawab dan pantas.

"Secara keseluruhannya, bukan saja mendidik menjadi orang yang lebih baik"
menurutnya "tetapi juga menjadikan dunia yang lebih baik".

BAGAIMANA ORANG TUA DAPAT MEMBANTU
1 Hindari mengatakan kalimat ini: "Itu tidak sakit", atau "Kamu tidak pantas
marah!" anak boleh bersikap emosional; Yang tidak boleh adalah bertindak
mencelakai diri sendiri atau orang lain.

2 Bicara mengenai perasaan kita sendiri adalah contoh yang bermanfaat.
Gunakan kata "saya" jika anda bisa: "Saya merasa tidak enak kalau kamu
berbicara dengan nada yang kasar".

3 Buatlah pernyataan perasaan secara mudah dan lucu: Ambillah gambar wajah
yang beremosi dari Majalah atau gambarlah yang sederhana di kartu tandai:
Gembira, Sedih, Marah, Menangis. Tempelkan pada gagang dan ajaklah anak anda
untuk menggunakannya dalam menyatakan perasaan.

4 Bicarakan perasaan jika mungkin. Bukan hanya memberi nasehat, tetapi juga
menolongnya untuk tidak merasa sendiri/terkucil.

5 Jangan tunggu sampai ada kejadian menyakitkan untuk berbicara tentang
perasaan.

6 Untuk informasi tentang 6 seconds, tulislah surat ke 316 Seville Way, San
Mateo, CA 94402, atau lihat pada Web di Internet: http://www.6seconds.org.

7 Well Child Foundation dari First Years Institute, sebuah organisasi
kesehatan anak non-profit didanai oleh Blue Cross dan Blue Shield dari
Massachusetts, menawarkan kursus gratis 18 bulan untuk para professional di
bidang kesehatan anak mengenai Kecerdasan Emosional.

(sumber unknown)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar